Asuransi terbaik didunia, asuransi diklaim100%, asuransi dicirebon, asuransi terpercaya, cara manajemen keuangan masa depan, asuransi premi fleksibel, cara ikutan asuransi, produk-produk asuransi, asuransi syariah terbaik, asuransi syariah terpercaya, asuransi syariah


Saat Paling tepat Punya Asuransi

Saat Paling tepat Punya Asuransi


Kita sering bertanya dan bingung sebetulnya perlu ga sih kita punya asuransi ? Terus kapan yah kita harus punya Asuransi ?.  Hal ini juga pernah di alami penulis, keraguan dan ketidak tahuan akan manfaat asuransi membuat kita gamang / ragu melakukan tindakan untuk mempunyai Asuransi.

Berikut ini adalah kutipan pernyataan para perencana keuangan :

Eko Endarto ( di kutip dari Tempo )
" Proteksi keuangan atau asuransi menjadi penting lantaran manusia tidak bisa memprediksi kapan dia bakal sakit maupun meninggal,  keputusan untuk memiliki asuransi kesehatan lebih baik dibeli sedini mungkin. Sebaiknya saat muda dan risiko dianggap kecil." Dengan begitu, harga yang dibayarkan untuk membeli asuransi kesehatan dan membayar premi belum begitu tinggi. Dia berujar biaya yang disisihkan untuk asuransi adalah sebesar 10 persen dari gaji setiap bulannya. "Jangan pas sudah risiko tinggi baru buat (daftar asuransi), pasti biayanya tinggi."

Lebih lanjut, Eko mengatakan waktu yang paling tepat untuk membeli asuransi kesehatan adalah ketika telah merasa mempunyai penghasilan. Asuransi menjadi sangat perlu dibeli saat mulai menanggung orang lain, misalnya telah menikah. "Jangan sampai ketika menanggung orang lain dan terjadi apa-apa, orang lain jadi ikut menanggung."

Lebih jauh Eko meyakinkan bahwa perusahaan asuransi kesehatan pasti bakal membayar klaim yang diajukan bila syarat-syaratnya sudah lengkap. Menurut dia, kasus sulit klaim yang kerap beredar di media terjadi lantaran nasabah belum mengetahui atau tidak memenuhi syarat yang ditetapkan. "Dia (pemegang asuransi) enggak baca (polis dan syarat asuransi). Ketika klaim mengaku tidak dibayar, padahal syaratnya memang enggak masuk," ucapnya.

Safir Senduk :  
"Asuransi ibarat payung. Payung tidak menjamin hujan akan turun. Tapi menjamin anda tidak akan basah kalau ada hujan."


Hasil riset HSBC tebaru bertajuk “Power of Protection” menyatakan bahwa 67% dari 1.200 responden mengaku telah memiliki asuransi. Akan tetapi, mereka tidak tahu apakah asuransinya memenuhi kebutuhan mereka atau tidak. Dengan kata lain, meskipun orang memiliki asuransi, belum tentu mereka mengerti tentang hak dan kewajibannya. Lantas, bagaimana dengan mereka yang belum memiliki asuransi?

Karin Zulkarnaen, Head of Market Management Allianz Life Indonesia mengaku tidak terkejut dengan temuan tersebut. Menurutnya, orang Indonesia menyadari manfaat asuransi, hanya saja mereka sering menunda untuk melakukan aksinya itu.

“Ada sekitar 55 juta jiwa jumlah tertanggung yang ter-cover asuransi jiwa secara nasional. Namun, yang punya polis asuransi untuk dirinya dan keluarganya hanya 3-5% dari jumlah itu. Orang Indonesia masih bergantung dari BPJS dan asuransi kantornya,” ungkapnya kepada Marketeers saat ditemui di Ritz Carlton Ballroom Pacific Place Jakarta, Selasa, (13/4/2016).

Padahal, lanjut Karin, tidak ada ruginya seseorang memiliki polis asuransi di luar BPJS dan asuransi kantor. Lagipula, asuransi yang ditawarkan kantor dan BPJS cukup terbatas.

“Ini bukan mereka males untuk berasuransi. Tapi karena mereka tidak mengetahui bahwa asuransi kantor dan BPJS itu terbatas. Apakah jika terkena penyakit serius, seberapa lama asuransi kantor akan menanggung?” terang Karin.

Karin menambahkan, saat seseorang mulai bekerja untuk pertama kalinya adalah waktu yang tepat untuk membeli asuransi. Sehingga, premi yang dibayarkan setiap bulannya akan mencukupi kebutuhan proteksi mereka di masa depan.

Faktanya, tren menunjukkan bahwa rata-rata orang Indonesia membeli asuransi pertama kalinya pada usia 30 tahun, atau setelah mereka berkeluarga dan memiliki anak.

“Saya selalu katakan, saat sehat dan merasa tidak perlu asuransi adalah saat yang tepat untuk membeli asuransi. Sebab, kalau sudah tua dan sakit, lalu kita mau ikut asuransi, pasti mayoritas akan ditolak,” tegasnya.

Lagi pula, sambung Karin, penyakit yang biasanya menyerang kaum tua, kini sudah menyambar kalangan muda. Pola hidup yang tidak sehat serta gaya hidup yang buruk membuat banyak anak usia 30-an yang mengidap penyakit stroke dan kardiovaskuler.

“Mereka selalu bilang akan ikut asuransi, kalau pendapatannya naik. Kalau ditunda-tunda, sampai pendapatan naik pun juga akan habis. Makin tinggi pendapatan, ekspektasi terhadap kebutuhan kesehatan semakin tinggi,” paparnya.

Sebenarnya, tidak ada angka akurat untuk mengatakan berapa persentase dari pendapatan yang harus diinvestasikan untuk asuransi. Namun, Karin bilang, pihaknya memiliki kalkulator asuransi untuk mengukur berapa kebutuhan asuransi setiap orang dan keluarganya.

Unit Link Favorit

Meski penetrasi asuransi individu masih kecil, namun kehadiran produk unit link yang menggabungkan manfaat asuransi dan investasi dalam satu polis, membuat banyak orang tertarik memilikinya. Hal ini menurut Karin disebabkan karena tipikal orang Indonesia masih “tidak mau rugi”.

“Orang Indonesia masih berpikir sayang apabila ia ikut asuransi, tapi tidak ada klaim, sehingga premi hangus begitu saja. Dengan unit link, setidaknya, ia dapat sebagian uang yang ia investasikan untuk ditarik lagi,” terang Karin.

Selain itu, unit link bisa menjadi tahapan yang cocok bagi mereka yang ingin belajar soal bagaimana rasanya berinvestasi. Sehingga, ketika pendapatannya bertambah, ia akan memikirkan untuk membeli instrumen investasi secara terpisah.

“Produk ini (unit link_red) cocok untuk first jobber. Dengan Rp 300.000 saja, mereka sudah bisa berinvestasi. Nanti, seiring pedapatannya meninggi, ia akan meningkatkan nilai investasinya menjadi Rp 1 juta,” ceritanya.


Segera Hubungi Admin untuk mendapatkan Product Asuransi yang Anda butuhkan.
HP & WA : 0812-8767-0551





@



Saat Paling tepat Punya Asuransi